Ketika Bintang Mati
Anak-anak mulai gaduh ketika saya berkata bahwa pagi itu saya akan bercerita mengenai bintang yang mengalami kematian. Ada beberapa yang berasumsi bahwa bintang layaknya batu, benda mati yang tak akan pernah mati. Benda bercahaya yang sinarnya tak akan pernah padam. Namun sepertinya pagi itu saya merusak keyakinan mereka. Dan mereka terpaksa harus mengetahui, bahwa layaknya makhluk hidup, bintang juga akan menemui ajal.
Namun sebelumnya, ada pertanyaan yang selalu mengawali cerita ini: Apa yang menyebabkan bintang dapat bersinar? Apakah ia membutuhkan bahan bakar untuk bersinar? Dan apakah bahan bakar ini dapat terus tersedia sehingga bintang dapat bersinar selamanya?
Dengan mempelajari matahari yang juga bintang, fisikawan sudah mendapatkan jawabannya. Bintang bersinar karena adanya reaksi fusi nuklir di inti bintang. Reaksi fusi adalah proses penggabungan inti-inti atom suatu unsur menjadi inti atom dari unsur yang lebih berat. Bagi bintang, ‘bahan bakar’ utama reaksi ini adalah unsur yang paling sederhana di alam: hidrogen. Di inti bintang, hidrogen akan mengalami fusi menjadi helium, unsur yang lebih berat yang seolah ‘abu pembakaran’ hidrogen karena tidak ikut ‘terbakar’. Dari proses fusi hidrogen inilah akan dihasilkan energi yang menyebabkan sebuah bintang dapat bersinar.
Adanya reaksi fusi di inti bintang juga menyebabkan tekanan yang berusaha mendorong semuanya keluar, namun tekanan ini dilawan oleh kontraksi gravitasi dari material yang ada di luar inti bintang yang berusaha menekan semuanya ke dalam. Terjadi pertarungan antara tekanan inti dan kontraksi gravitasi, dengan hasil seimbang. Inilah yang menyebabkan bintang memiliki ukuran yang relatif stabil.
Dan apakah reaksi fusi hidrogen dapat berlangsung selamanya? Tidak. Helium, ‘abu pembakaran’ hidrogen, mulai menumpuk di inti bintang. Menumpuk dan menumpuk hingga akhirnya ‘ruang bakar’ mulai dipenuhi dengan helium dan tidak ada lagi hidrogen yang dapat ‘dibakar’. Semuanya telah menjadi helium. Reaksi fusi hidrogen di inti bintang terhenti. Tekanan dari dalam mulai melemah hingga akhirnya kontraksi gravitasi memenangkan pertarungan. Material yang ada di luar inti mulai runtuh ke dalam. Kolaps, dan bintang mulai masuk fase ’sekarat’.
Namun bintang tidaklah mudah menyerah pada ajal. Ia berusaha melawan. Helium yang ada di inti mulai ‘dibakar’ menyisakan karbon sebagai ‘abu pembakaran’. Tekanan dari dalam mulai muncul melawan kontraksi gravitasi. Kolaps berhenti. Namun, panas dari arah dalam mulai memicu hidrogen di luar inti untuk ikut terbakar. Kali ini, tekanan fusi di permukaan bintang tidak dilawan oleh gravitasi. Bintang mengembang. Membesar. Memerah, layaknya wajah yang memerah karena menahan rasa sakit. Dan kita akan menyaksikan kehadiran bintang raksasa merah. Bintang yang sedang ’sekarat’.
Ketika permukaan bintang mengembang, gravitasi tak lagi mampu menahan lapisan terluarnya. Selapis demi selapis, tanpa dapat diamati, permukaan bintang terlepas. Seolah gambaran lepasnya jiwa dari raga. Dan akhirnya, ketika lapisan yang paling dalam dan paling panas terlepas, semuanya barulah kasat mata, sebagai nebula planetari, akhir hidup sebuah bintang bermassa medium.
Dan ketika ‘ruang bakar’ tak lagi menyisakan helium, kolaps di inti bintang kembali terjadi, hingga akhirnya yang tersisa dari proses panjang ini adalah benda mampat terang berukuran kerdil bernama katai putih, mayat bintang. Dan karena tidak ada lagi reaksi fusi, katai putih ini semakin lama akan semakin mendingin, meredup, hingga akhirnya padam. Menyisakan seonggok kristal karbon di langit, katai hitam, yang tak lagi bersinar, tak lagi dipedulikan.
Sebuah pertanyaan kemudian muncul mengakhiri cerita ini. Berapa lama usia bintang? Tentu saja dalam jangka waktu jutaan tahun. Namun usia bintang akan ditentukan oleh satu hal, massanya. Semakin berat massa bintang, maka usianya akan semakin pendek.
Bintang bermassa besar menanggung resiko yang juga besar. Ia harus mampu menahan massanya sendiri dengan tekanan inti yang juga besar. Tekanan ini hanya dapat diperoleh jika ia ‘membakar’ hidrogen lebih banyak. Dan kita akan melihat bintang yang bersinar lebih terang dari bintang lainnya.
Namun, proses fusi hidrogen yang lebih banyak membawa konsekuensi yang cukup berat: hidrogen di inti bintang akan cepat habis, dan bintang akan cepat memasuki fase sekarat, hingga riwayat hidupnya akan diakhiri dengan sebuah ledakan hebat, supernova.
Dan ada beberapa bintang terang di atas sana. Mungkin Anda akan kagum ketika menemukannya. Namun sepertinya Anda juga akan bersedih ketika melihatnya, karena ia ditakdirkan memiliki usia yang tidak lama…
Sahabat Dari Langit
Sukakah Anda menatap langit malam? Berlama-lama mendongak ke langit, mengamati semua benda yang ada di atas sana.
Apa yang bisa anda lihat di sana? Bintang, terkadang juga ada bulan. Namun paling sering taburan bintang di gelapnya langit malam.
Lalu apa yang menarik dari bintang? Tidak ada. Mereka hanyalah titik-titik bercahaya yang memenuhi penjuru langit malam. Tidak lebih. Titik-titik terang yang susunannya terkadang membuat kita menghayalkan bentuk tertentu.
Namun itu terjadi jika Anda belum mengenal mereka. Titik kelap-kelip itu akan menjadi titik bercahaya yang menarik ketika Anda mengenalnya lebih dekat.
Pernahkah Anda memperhatikan kerumunan orang di sekitar Anda? Mungkin yang Anda lihat ketika sedang menunggu kereta di stasiun. Atau ketika sedang menunggu bis di halte. Atau mungkin ketika sedang mengantri di depan ATM.
Adakah yang menarik dari kerumunan orang itu? Tentu saja tidak ada. Kerumunan itu hanyalah kerumunan orang yang tidak kita kenal, tidak kita pedulikan. Toh mereka juga tidak mengenal dan peduli pada kita.
Namun itu terjadi karena Anda tidak mengenal mereka. Andaikan dari kerumunan orang itu ada satu yang Anda kenal baik, mungkin teman dekat Anda, teman kantor atau mungkin tetangga Anda, maka mata Anda akan mulai berbinar, senyum mengembang dan Anda akan menyapanya, mengajaknya bicara. Anda punya teman bicara di antara kerumunan orang itu.
Bagaimana jika dari kerumunan itu Anda mengenalnya semua? Mungkin rombongan teman-teman seangkatan Anda saat kuliah, atau teman-teman Anda waktu SMA dulu, atau mungkin teman-teman satu genk Anda? Wah, mata Anda akan lebih berbinar lagi. Anda merasa berada di tempat yang menyenangkan dan Anda akan sangat menyukai kerumunan orang tadi.
Begitu pula ketika kita melihat bintang dan mengenalnya. Saat menemukan Sirius, Canopus, Procyon, Pollux, Betelgeuse, Antares, Arcturus, Capella, Vega, mata Anda akan berbinar, senyum mengembang dan mungkin Anda akan mulai menyapanya. Dan ketika mereka tak lagi muncul di langit malam, Anda akan mulai merindukannya. Anda akan mencari-cari Sirius yang segera terbenam di ufuk barat. Atau mungkin Anda mulai merindukan Canopus yang tak lagi hadir karena tenggelam di bawah cakrawala.
Bagaimana jika Anda mengenal semua kerumunan bintang di langit? Wah, Anda akan merasa melihat pemandangan yang menyenangkan dan menyukai kerumunan bintang. Anda akan merasa ditemani banyak sahabat, sahabat dari langit. Dan layaknya sahabat yang ada di kejauhan, yang tak bisa digapai, tak bisa disentuh, kita tidak akan pernah tahu apakah ia sedang gembira atau bersedih, sedang tertawa atau menangis. Namun setidaknya kita tahu, bahwa ia ada di sana, mencoba untuk bersinar semampunya…
Tentang Dingin
Seiring dengan bergesernya matahari ke arah utara, hawa dingin mulai terasa bagi mereka yang tinggal di selatan katulistiwa. Benua kanguru mulai memasuki winter, masyarakat Jogja mulai merasakan ‘bediding‘, hawa dingin yang menyapa di pagi hari.
Sebenarnya setingan default tubuh saya tidak terlalu cocok dengan hawa dingin. Sebagai anak kampung yang tumbuh besar di bawah sengatan panas Matahari, hawa dingin adalah sesuatu yang kurang menyenangkan bagi tubuh saya. Entah itu hawa dingin yang dihasilkan alam, ataupun hawa dingin buatan yang dihasilkan AC (Air Conditioner).
Empat tahun yang lalu, ketika pertama kali duduk di ruang kantor saya, hawa dingin menjadi sesuatu yang mengganggu produktivitas kerja. Selain mengalami serangan masuk angin hampir setiap hari, tubuh saya akan menggigil menahan dinginnya semburan udara dari AC. Dengan alasan toleransi, biasanya saya mencoba bertahan, karena para senior lebih suka jika AC menyala dengan setingan suhu rendah. Untungnya saya tidak sendirian, seorang teman satu ruangan juga mengalami nasib yang sama. Dan di saat para senior sedang tidak berada di ruangan, kami berdua sepakat mematikan AC
Ketika mengikuti pelatihan selama beberapa bulan di Denpasar 3 tahun yang lalu, hal yang sama terjadi. Guru saya yang asli Sidney lebih suka jika AC di kelas diset pada suhu 18 Celcius, sementara kami, murid-muridnya yang hampir semuanya anak kampung, lebih suka jika AC diset pada suhu 24 C. Rebutan remote control AC antara guru dan murid adalah pemandangan sehari-hari setiap pagi sebelum kelas dimulai, walaupun sebagai murid mengharuskan kami untuk mengalah. Namun karena tidak tega melihat kami yang selalu menggigil kedinginan selama pelatihan, akhirnya guru kami mengusulkan jalan tengah: AC diset pada suhu 22 C, dan semua menggangguk gembira
Dua tahun yang lalu, ketika saya diberi kesempatan merasakan winter di Brisbane, tubuh saya dipaksa untuk beradaptasi dengan hawa dingin, dimana 18 C adalah suhu harian rerata di kota itu. Setidaknya masih ‘hangat’ jika dibandingkan Melbourne dan Tasmania
Pengalaman yang tak terlupakan adalah saat suhu di kamar kontrakan anjlok hingga mencapai 4 C, hampir mendekati titik beku air. Saya dipaksa untuk bertahan tanpa bantuan heater, dengan tubuh yang hanya dibalut kaos dan jaket tipis yang dibawa dari tanah air, plus celana panjang dan kaos kaki ala kadarnya. Dengan suhu kamar serendah itu, rasa nyeri mulai menjangkiti tulang kaki dan dada saya. Semalam suntuk saya tidak bisa tidur nyenyak, selalu terbangun setiap 15 menit, menahan nyeri karena rusuk dada yang serasa diremas dan juga sesak nafas.
Pengalaman melewati 2 kali winter di benua kanguru itu sepertinya cukup berguna bagi saya. Setidaknya saat ini saya bisa merasa nyaman dengan hawa dingin dari AC di ruangan kantor. Tubuh saya mulai terbiasa dengan dingin, kecuali jika tubuh sedang dalam kondisi tidak sehat, hawa dingin dari AC masih menyebabkan tubuh saya menggigil.
Sayangnya, teman satu ruangan saya masih seperti 4 tahun yang lalu, tidak berjodoh dengan hawa dingin. Semburan udara dingin dari AC masih menjadi musuh bebuyutannya. Hmmm… sepertinya saya perlu merekomendasikan ke dia agar menikmati winter di Brisbane ![]()